Lost in Time : Menemukan Eropa Mini di Tengah Kota Surabaya

 



Kota Lama Surabaya, sebuah kawasan bersejarah yang menyimpan segudang cerita tentang masa lalu Kota Pahlawan. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi sejarah dan pengembangan Zona Eropa, salah satu dari empat zona yang membentuk Kota Lama Surabaya. Pada abad ke-18, Surabaya mulai berkembang sebagai pusat perdagangan dan industri di Jawa. Pada tahun 1787, pemerintah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) merencanakan tata kota Surabaya yang dikelilingi tembok, menciptakan kawasan yang terpisah dan teratur. Zona Eropa, adalah kawasan cagar budaya yang terdiri dari Jalan Kalimas Barat, Jalan Cendrawasih, Jalan Merak, Jalan Krembangan Timur, Jalan Rajawali, Jalan Garuda, Jalan Kalisosok, Jalan Jembatan Merah, Jalan Branjangah dan Jalan Veteran. Berlokasi di utara Surabaya, Area cagar budaya terdiri dari Jalan Kalimas Barat, Jalan Cendrawasih, Jalan Merak, Jalan Krembangan Timur, Jalan Rajawali, Jalan Garuda, Jalan Kalisosok, Jalan Jembatan Merah, Jalan Branjangah, dan Jalan Veteran. Berlokasi di utara Surabaya, Zona Eropa adalah tempat yang paling kaya akan sejarah dan merupakan pusat organisasi dan perkantoran etnis Eropa selama periode kolonial. Kompleks cagar budaya yang terletak di dalamnya menunjukkan perkembangan Surabaya dari abad ke-16 hingga ke-20. Bangunan tua dengan gaya kolonial khas tetap berdiri kokoh dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota ini. Kisah-kisah tentang penjelajahan, penaklukan, dan perdagangan berkombinasi dengan perjuangan legendaris arek-arek Suroboyo.

 

Untuk pertama kalinya, Surabaya disebutkan dalam Prasasti Canggu pada 7 Juli 1358, yang terbuat dari lempeng tembaga. Dijelaskan bahwa Surabaya adalah sebuah desa di tepi sungai. Kota surabaya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya “ Berani (Melawan) Bahaya”. Sedangkan simbol Ikan Hiu dan Buaya dipakai dari cerita rakyat populer yang baru muncul pada abad ke-19. Dalam perkembangannya terdapat banyak variasi penulisan nama Surabaya. Di antaranya adalah Çurabhaya, Sourabaya, Soerabaja, Soerabaia, dan Surabaja. Pada tahun 1858, cerita rakyat tentang hiu dan buaya menjadi medali grup musik St. Caecilia, dan pada tahun 1906, itu menjadi lambang Kota Surabaya (Buku Oud Soerabaia).


Pada tahun 1511, berdasarkan catatan seorang penulis Portugis berasal dari karya Tome Pires yang berjudul "Suma Oriental," yang merupakan catatan perjalanannya dari Laut Merah ke Cina dan mencakup informasi tentang berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Jawa dan Surabaya pada masa itu, bahwa Surabaya diperintah oleh penguasa yang disebut Pate Bubat, atau Patih Bubat. Ia adalah penguasa yang kuat dan terhormat dengan wilayah yang luas dan terus berkembang. Pate Bubat memiliki sekitar 6.000 hingga 7.000 tentara untuk mempertahankan dan memperluas wilayahnya. Wilayah yang membentang dari pantai utara ke selatan. Di belakang pemukiman penduduk terdapat perkebunan dan hamparan tanah kosong yang terbentang. Meskipun tidak banyak catatan yang tersedia tentang Pate Bubat secara spesifik, ia merupakan bagian penting dalam sejarah Surabaya pada masa itu. Peranannya sebagai penguasa yang kuat dan terhormat menunjukkan keberadaannya sebagai salah satu tokoh penting dalam dinasti penguasa Surabaya pada abad ke-15.


Pada tahun 1614, Kerajaan Mataram menyerang Kerajaan Surabaya. Akan tetapi, Kerajaan Mataram dan terus berulang kali mengalami kegagalan pada tahun 1616 dan 1620. Kerajaan Mataram akhirnya berhasil menaklukkan Surabaya pada tahun 1625. Namun pada tahun 1743, Surabaya diserahkan kepada VOC. Seacara resmi Raja Mataram Pakubuwono Il menyerahkan Surabaya pada Gubernur Jenderal VOC, Gustaf Willem Baron van Imhoff sebagai imbalan atas bantuan VOC kepada Mataram karena menangkap Trunojoyo (bangsawan Madura yang melawan Mataram karena pemerintahannya dinilai sewenang-wenang kala itu). Setelah VOC mengambil alih sepenuhnya Surabaya, sejak itu, Surabaya menjadi pusat perdagangan dan kedudukan orang-orang Belanda di Surabaya. Surabaya menjadi Kota Perdagangan Utama pada abad ke-19.


Ketika VOC bangkrut pada 1799, koloni VOC di Surabaya diambil alih oleh Kerajaan Belanda. Kawasan Kota Lama Surabaya terus berkembang, baik dalam bidang perdagangan maupun pertahanan. Di sinilah pabrik senjata berat, perkebunan dan perkantoran dibangun. Kantor asuransi dan sektor keuangan bergabung dengan perusahaan ekspor, dengan infrastruktur kota yang dirancang sangat baik. Salah satu dari enam perusahaan eksportir komiditi terbesar di Surabaya pada masa kolonial Hindia Belanda adalah Perusahaan firma dagang Geo Wehry & Co. Perusahaan ini bergerak di bidang perkebunan dan memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi di wilayah Nusantara, termasuk di Indonesia. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas perdagangan, mulai dari ekspor komoditas seperti rempah-rempah hingga impor barang-barang kebutuhan sehari-hari. Kantor yang dibangun pada tahun 1913 oleh Hollandsche Beton Maatschappij tersebut menjadi hotel dengan menyisahkan tampak depannya saja. Pada tahun 1994, bangunan ini dibangun kembali dan digunakan sebagai Hotel Ibis Rajawali, yang merupakan bagian dari jaringan Accor dari Perancis. Pada tahun 2016, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Arcadia setelah akuisisi oleh Grup Brasali dan dikelola oleh Hotel Horison hingga saat ini. Pada tahun 2020, Hotel Arcadia diakui sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya karena nilai historisnya yang kuat dan arsitektur uniknya.


Kemudian, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun De Javasche Bank pada tahun 1828. Atas perintah Raja Willem I dari belanda untuk mengatasi masalah keuangan dan perekonomian pemerintah kolonial Hindia Belanda setelah bangkrutnya VOC. De Javashche Bank merupakan bank sirkulasi pertama di Asia yang berarti memiliki kewenangan untuk mencetak dan mengedarkan uang gulden di wilayah Hindia Belanda dengan menggunakan hak istimewa (octrooi). Setelah kemerdekaan Indonesia, De Javasche Bank dinasionalisasi dan berubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1951. Gedung ini kemudian menjadi kantor Bank Indonesia perwakilan Surabaya hingga 1972 dan pada 27 Januari 2012, gedung tiga lantai milik Bank Indonesia ini ditetapkan sebagai cagar budaya.


Pada awal abad ke-20, Surabaya menjadi kota paling sibuk di negeri koloni. Jumlah penduduknya lebih besar dibandingkan penduduk Batavia (Jakarta), yang memiliki perputaran uang terbesar. Hal ini merupakan hasil dari industrialisasi dan perdagangan hasil perkebunan yang sukses. Salah satu hasil industrialisasi yang sukses adalah Pabrik Sirup Siropen, yang didirikan pada tahun 1923 oleh J.C. van Drongelen di Surabaya, adalah pabrik sirup pertama di Indonesia. Awalnya bernama Limoen J.C. van Drongelen & Hellfach, pabrik ini telah mengalami beberapa perubahan kepemilikan, termasuk pengambilalihan oleh Jepang selama Perang Dunia II dan kembali dikuasai Belanda hingga dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia pada 1958. Saat ini, Siropen tetap beroperasi dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2015, berfungsi sebagai objek wisata sejarah.


Pusat kota mulai bergerak ke selatan sebagai akibat dari peningkatan populasi penduduk. Kemudian kantor pemerintahan di ujung Jembatan Merah dibongkar dan dibangun gedung baru di Pasar Besar, serta Balai Kota Surabaya dibangun di Ketabang. Perumahan baru dibangun di daerah Simpang, Tegalsari, Darmo, Kupang, dan Gubeng. Sementara itu, kompleks industri dipindah ke daerah Ngagel. Saat ini, Pemerintah Kota Surabaya telah mengembangkan kawasan wisata heritage di Kota Lama dengan tujuan membangkitkan nilai historis dan menghidupkan kembali nuansa tempo dulu. Zona Eropa, bersama dengan zona Pecinan, Arab, dan Melayu, membentuk jalur budaya yang unik dan menarik bagi pengunjung. Salah satu daya tarik utama Kota Lama Surabaya adalah bangunan-bangunan bergaya Eropa yang masih terawat dengan baik. Gedung-gedung tinggi dengan ornamen-ornamen khas kolonial, seperti jendela melengkung dan pilar-pilar kokoh, menghadirkan suasana klasik yang memikat. Dengan latar belakang bangunan-bangunan tua yang indah, Kota Lama Surabaya menjadi surga bagi para pecinta fotografi. Setiap sudut kawasan ini menawarkan spot foto yang instagramable. 


Gedung Internatio 

Zona Eropa di Kota Lama Surabaya menawarkan pengalaman unik dengan menampilkan bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang masih terjaga. Gedung Internatio, yang dibangun pada tahun 1931, merupakan salah satu spot foto yang wajib disambangi. Gedung Internatio, yang juga dikenal sebagai Internationale Crediten Handelvereeniging, memiliki sejarah yang kompleks dan berpengaruh dalam peristiwa-peristiwa penting di Surabaya. Gedung Internatio dibangun pada tahun 1929 oleh Biro AIA Aristech, yang dipimpin oleh arsitek terkenal Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Desainnya dimulai pada tahun 1927 dan selesai pada tahun 1931. Gedung ini sarat akan muatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan menjadi saksi bisu penting dalam sejarah Surabaya. Salah satu peristiwa penting yang terjadi di Zona Eropa adalah Pertempuran 10 November 1945. Peristiwa ini terjadi ketika pasukan Sekutu, termasuk Inggris, mengeluarkan ultimatum kepada para pejuang Surabaya. Peristiwa ini berujung pada Pertempuran 10 November, yang menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jenderal A.W.S. Mallaby, seorang perwira tinggi Inggris, tewas dalam pertempuran tersebut pada tanggal 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio dan menjadi saksi bisu penting dalam sejarah kota Surabaya.



Setiap sudut Kota Lama Surabaya menyimpan kisah sejarah yang menarik. Mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga perkembangan kota, semua terukir jelas pada bangunan-bangunan tua ini. Dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang tinggi, Kota Lama Surabaya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata yang menarik. Wisatawan dapat menikmati suasana tempo dulu sambil belajar tentang sejarah.

#myholiday2024unusa #unusa #2024 #kotalamasurabaya #d4k3unusa

____________________________________________________________________________

https://unusa.ac.id/

https://fkes.unusa.ac.id/





Komentar